pernah kupunguti setiap peluhmu
runtuhan tulang dan carik lusuh kainmu
bahkan sisa janggut di angin luruh
dahagaku tak kunjung diredakan
diantara kembang ilalang penghujung musim
dan nyanyi sunyi bersama angin
senyummu tak jua kupahami
maka ketika subuh merah membiaskan lagu kemenangan
kudengar sukmaku terjaga, hayya 'alal falah...
dipersimpangan masih kulihat senyummu mengembang
samar jauh disudut altar
(bjb251287)

No comments:
Post a Comment