Thursday, March 13, 2008


dalam gelap dalam terang

dalam senyap.

penah kukatakan kau terkunci disudutnya yang pengap.

seusai lolongan adzan pernah kubiarkan semua berlalu tanpa sedu.

bahkan ketika kuhempaskan seluruh amarah, matari tak juga berpaling.

ketika derap langkah makin samar

menjauh dari adzan di cakrawala

dasar karang dan tarian ikan warna warni

memberi senyum yang teduh

dendam kesal yang dihamburkan senantiasa

tak kuasa mengubah wajah ramah

Dimana dapat kusembunyikan dosa-dosa

atau beri aku airmata

Bjb. 10.03.08


Tuesday, February 26, 2008


Catatan buat El Amien II


Ia tidak meminta sesaji apapun


Walau berbagai penganan ditaburkan ke laut dan pehumaan,


ia mengingatmu. Sementara kau kenangkan masa remaja nan gemilang


atau air mata yang tak kunjung disurutkan.


Maka biarkan ia mengingatmu. Sementara ia terbangkan cinta setinggi awan


dengan sayap melukai jantungnya.


Bjb, 280208


Catatan buat El Amien III


Seusai hujan gerimis ia merapihkan rambutnya di kaca jendela


Seribu mil dan sejengkal cerita ditorehkan pada debu-debu luntur


leleh disisi aspal jalanan.


Ia mengingatmu


melebarkan lengan dan data terkembang


Dalam remang-remang dan bayang menderu doa-doa


untuk berlutut di dekat multazam


Bjb,280208



Saturday, January 26, 2008


catatan buat El Amien

sebutir embun jatuh entah dimana
sejuknya membelah jendela dan beranda

diantara hiruk pikuk dan debu jalanan
kupunguti setiap senyum dan amarah
lalu kuselipkan di keranjang gendongan
di sini kutemukan kuningnya bunga edelweis
yang terlepas dari jemari para pendaki

manakala orang memetiknya
ada tempat penuh cinta yang seharusnya, entah dimana

sementara biarkan orang melarikan hidupnya ke yogya ke surabaya
ingin kubiarkan seluruh nadi mati
bila kasih sang pencipta akan mengalir deras

tak ada pakaian yang lebih bermakna
selain kasih sang pencipta
dimana kita tersipu mengenakan di depannya

bjb 0108

Wednesday, January 23, 2008

serenada jingga

kutinggalkan bayangmu di peron stasion Cirebon
sejauh angin menerbangkan bulu bulu matamu
tubuhku terempas diantara pekik kehidupan jalanan
dan kerinduan yang menyeruak dalam

ketika merahnya senja tak membasuh lukaku
sungguh masih tercium wangi jilbabmu

kutinggalkan bayang
tapi kucari sukmamu yang menggeleparkan jiwa

yang menarik seluruh sukmaku ke dekat pohon
dimana selembar daun pun tak luput dari mata sang pencipta
dalam pejam kurasa genggaman tanganmu berkeringat
ingin aku membimbingmu

jkt, okt 2006