derak pintu pagar samar senyummu dibalik cahaya bulan
letihkah seluruh ruang pengembaraan?
meski matamu berkilat namun jauh entah kemana
adakah kau dapati mentari lain
yang sinarnya lebih panas dan bisikannya meremas telinga?
adakah kau dapati segelas air dingin dan kasih sepasang mata?
bertahun kutunggu
hijau pupus dan merah flamboyan penuh dahaga
seperti ketika dibawahnya kau berikan senyum yang pertama
ketika derak pintu pagar terdengar sia-sia
cahaya bulan kabur tanpa makna
(bjb,270410)
ForestView_Poems
Sunday, May 2, 2010
Friday, April 2, 2010
Thursday, December 24, 2009
JAUH DI SUDUT ALTAR
pernah kupunguti setiap peluhmu
runtuhan tulang dan carik lusuh kainmu
bahkan sisa janggut di angin luruh
dahagaku tak kunjung diredakan
diantara kembang ilalang penghujung musim
dan nyanyi sunyi bersama angin
senyummu tak jua kupahami
maka ketika subuh merah membiaskan lagu kemenangan
kudengar sukmaku terjaga, hayya 'alal falah...
dipersimpangan masih kulihat senyummu mengembang
samar jauh disudut altar
(bjb251287)
runtuhan tulang dan carik lusuh kainmu
bahkan sisa janggut di angin luruh
dahagaku tak kunjung diredakan
diantara kembang ilalang penghujung musim
dan nyanyi sunyi bersama angin
senyummu tak jua kupahami
maka ketika subuh merah membiaskan lagu kemenangan
kudengar sukmaku terjaga, hayya 'alal falah...
dipersimpangan masih kulihat senyummu mengembang
samar jauh disudut altar
(bjb251287)
Friday, January 2, 2009
EPISODE PERTAMA
Dimana kau sembunyikan kidung dan shalawat?
subuh merah dan embun menjemput angin bukit timur
tak ada disini dia
hanya ranting ranting samar jauh
dimana kau sembunyikan senyum dan mata jelita
sementara bunga bunga akasia meluruhkan kuningya
meniupkan macapat smaradhana ditepi kaca jendela
Temui aku dalam kidungmu
biarkan mentari membakar ilalang jalanan
sekian lama menanti pada getirnya petikan kecapi
temui aku pada shalawatmu
subuh merah dan embun menjemput angin bukit timur
tak ada disini dia
hanya ranting ranting samar jauh
dimana kau sembunyikan senyum dan mata jelita
sementara bunga bunga akasia meluruhkan kuningya
meniupkan macapat smaradhana ditepi kaca jendela
Temui aku dalam kidungmu
biarkan mentari membakar ilalang jalanan
sekian lama menanti pada getirnya petikan kecapi
temui aku pada shalawatmu
Thursday, March 13, 2008

dalam gelap dalam terang
dalam senyap.
penah kukatakan kau terkunci disudutnya yang pengap.
seusai lolongan adzan pernah kubiarkan semua berlalu tanpa sedu.
bahkan ketika kuhempaskan seluruh amarah, matari tak juga berpaling.
ketika derap langkah makin samar
menjauh dari adzan di cakrawala
dasar karang dan tarian ikan warna warni
memberi senyum yang teduh
dendam kesal yang dihamburkan senantiasa
tak kuasa mengubah wajah ramah
Dimana dapat kusembunyikan dosa-dosa
atau beri aku airmata
Bjb. 10.03.08
Tuesday, February 26, 2008

Catatan buat El Amien II
Ia tidak meminta sesaji apapun
Walau berbagai penganan ditaburkan ke laut dan pehumaan,
ia mengingatmu. Sementara kau kenangkan masa remaja nan gemilang
atau air mata yang tak kunjung disurutkan.
Maka biarkan ia mengingatmu. Sementara ia terbangkan cinta setinggi awan
dengan sayap melukai jantungnya.
Bjb, 280208
Catatan buat El Amien III
Seusai hujan gerimis ia merapihkan rambutnya di kaca jendela
Seribu mil dan sejengkal cerita ditorehkan pada debu-debu luntur
leleh disisi aspal jalanan.
Ia mengingatmu
melebarkan lengan dan data terkembang
Dalam remang-remang dan bayang menderu doa-doa
untuk berlutut di dekat multazam
Bjb,280208
Subscribe to:
Posts (Atom)
